Labels

Labels

Labels

21 April 2009

Pemberontakan Pena


"Orang dapat merampas banyak dari kami, ya semuanya, tetapi jangan pena saya. Ini tetap milik saya, dan saya akan dengan rajin menggunakan senjata itu" (Cuplikan surat Kartini pada Nyonya Abendanon)

Bagi Kartini, pena bukanlah sekedar penggores kertas, tapi naik pangkat hingga layak disebut senjata. Pena yang membuka mata dunia. Penggedor hati nurani perihal kenestapaan yang menikam nasib perempuan. Pedang Kartini adalah pena terhunus yang menorehkan sejarah. Senjata yang tidak haus darah, meski mampu menggetarkan jiwa. Hati penjajah pun ikut tercabik-cabik oleh kepolosan jeritan nurani gadis pribumi. Berjuang tidak mesti mengusung pedang ke tengah gelanggang perang. Ada jalan lain melukis wajah dunia. Pengorbanan yang tak kalah berharga ketimbang menyabung nyawa.

Kartini, gadis pingitan semenjak usia belia. Dunianya hanya tembok-tembok rumah yang sempit, kaku dan menyeramkan. Nasib hidup terkurung terus dijalani hingga datang hari pernikahan. Tapi sang gadis bisa melanglang buana melalui pena. Ratusan surat ia tulis pada teman-teman seperti Nona EH Zeehandelar, Dr. N Andriani, Ny. Ovink-Soer dan Ny. RM Abendanon-Mandri di Eropa. Hingga kemudian tiba tawaran beasiswa belajar ke negeri Belanda. Kesempatan yang mustahil terwujud mengingat tradisi telah menjebloskannya masuk pingitan. Maka, sempurnalah penderitaan Kartini. Sekolah tidak jadi, sangkar emas pun menanti. Namun perjuangan tiada mengenal kata henti. Bila suara tak mampu lagi diteriakkan, ketajaman pena sanggup menembus tembok-tembok sombong itu.

Tubuh Kartini terkurung di sangkar adat, tapi semangatnya hidup di Eropa. Berbagai tulisannya menghiasi majalah Libelle, Echo, Holandse Leile perihal jeritan hati perempuan. Terbukti, jiwanya tetap merdeka bersama pena. Kemudian hari, dari 254 surat, 153 surat dikumpulkan sehingga gemparlah dunia oleh buku legendaris "HABIS GELAP TERBITLAH TERANG". Usia 25 tahun Kartini wafat. Peninggalannya bayi yang masih merah dan cita-cita yang selalu membara. Penderitaan yang dilewati justru menghasilkan pemikiran yang brilian. Hingga kini butir-butir renungan dan perjuangan hidup Kartini menjadi referensi pergerakan emansipasi.

Kemudian Roehana Kudus melangkah lebih maju. Dengan segala keterbatasan beliau menjadi wanita pertama yang menerbitkan surat kabar, "Soenting Melajoe". Isinya bukan resep masakan atau tips kecantikan lahiriah yang memoles kepalsuan dengan mode muktahir, tetapi tulisan yang mendorong semangat kaum hawa meningkatkan harkat kaumnya. Terutama turut aktif memperjuangkan cita-cita luhur, "Indonesia Merdeka". Kontan penjajah kebakaran jenggot dan langsung memasung sang mujahiddah di bawah todongan senapan, tetapi Roehana makin bergairah menajamkan ujung pena, memberontak terhadap kezaliman. Sekalipun tiap sebentar dibreidel dan bepergian ke mana-mana selalu diteror. ----------------------------------------------------------------------------------------------

Anugerah terindah dan terbesar yang diberikan Tuhan kepada kita adalah kemampuan pikiran. Hal inilah yang membedakan manusia dengan ciptaan-Nya yang lain. Kartini mengasah pikirannya dengan membaca tanda-tanda zaman, lantas menuangkan berupa tulisan. Menulis merupakan aktifitas pemotretan kehidupan, kemudian hasilnya dipetakan secara apik di sebuah album. Rakitan gagasan yang tertuang dalam lembaran kertas membuat potret hidup tersebut melegenda.

Kartini menjadi manusia pembelajar yang senantiasa haus akan informasi dan pengetahuan. Secara aktif proses bertukar pengalaman berlangsung lewat surat menyurat. Berbagai gagasan terus disajikan Kartini sehingga menembus sekat-sekat batas dunia. Kartini melejit dengan pemikiran cemerlang bukannya tanpa proses. Ia menguasai bahasa Belanda yang fasih, sehingga dapat bertukar pikiran dan menjalin komunikasi dengan orang Eropa. Tulisan-tulisannya bersifat renungan, pemberontakannya diungkap secara monolog.

Satu hal yang terpenting, perjuangan demi terciptanya perubahan ditempuh melalui tulisan. Dengan menulis! Kartini menggerakkan revolusi di sela-sela lipatan surat-suratnya. Kesungguhan yang luar biasa! Di samping Kartini, bangsa Indonesia memiliki cukup banyak perempuan-perempuan sebagai figur perjuangan. Tokoh-tokoh semacam Dewi Sartika, Tjut Nya` Dien yang hidupnya dipersembahkan demi bangsa dan masih banyak lagi yang lain. Namun, di sanalah terbukti ketajaman pena meninggalkan bekas yang lebih lama. Bukti perjuangannya terukir jelas.

--------------------------------------------------------------------------------------------
Penulis merupakan pekerja keabadian tanpa pamrih. Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama tidak menulis, ia akan hilang tertelan masa dan lenyap dari pusaran arus sejarah. Hanya orang yang menuangkan gagasannya berupa tulisanlah yang akan dikenang dalam waktu lama.

Sejarah tak akan mencatat sosok Kartini kalau saja ia tidak menulis di surat-surat, yang kemudian dikumpulkan oleh J.H. Abendanon. Menulis adalah kegiatan hebat bahkan efek yang dihasilkan justru lebih dahsyat. Sebagaimana, mungkin Kartini sendir tidak memperkirakan keteguhan hatinya belakangan hari menjadi rujukan perjuangan emansipasi.

Dari karya Kartini, dunia mengukur suhu barometer zamannya. Tangan besi penjajah dapat mematahkan perlawanan bersenjata, tapi gagal membungkam suara hati. Kartini menuangkan dalam tulisan-tulisan tentang segalanya. Polemik mengenai kejahatan, ketidakadilan, kemanusiaan, tragedi, rezim yang kejam, impian yang tak terucapkan dan banyak lagi. Kartini mempunyai modal semangat yang luar biasa dahsyatnya. Selalu disiplin dan konsisten untuk tetap menulis. Sehingga, dalam usia yang sedemikian muda sudah menghasilkan tulisan dengan bobot yang tak bisa dianggap remeh.

Para penulis justru semakin tenar dan dikenal tatkala sudah pergi menghadap panggilan Illahi. Tulisan adalah karya intelektual yang akan tetap dibaca, ditelisik, dikaji, dikritisi, dan dikenang sepanjang masa. Gagasan-gagasan mereka akan selalu menjadi inspirasi bagi generasi mendatang. Nama-nama mereka akan selalu abadi, dikenang oleh sejarah dan peradaban.

Sungguh indah ungkapan Yusuf Qardhawi : "Setiap penulis pasti akan mati dan berlalu. Tetapi waktu akan mengabadikan apa yang telah ditulisnya. Maka, janganlah menulis dengan tangan Anda selain yang akan membuat Anda gembira pada hari kiamat ketika melihatnya kembali"

Setiap tahun, kita mengulang-ulang peringatan hari Kartini. Sayangnya hanya sebatas menghormati raga, bukan semangat dari jiwanya. Peringatan nyaris seremonial belaka, lomba kebaya, dan acara lain yang terkadang lari dari pembaharuan yang diusung sang srikandi. Indonesia dewasa ini membutuhkan ketajaman pikiran kartini-kartini muda. Namun, ke mana hendak dicari pena Kartini?

5 komentar

soewoeng plasu 8 Mei 2009 09.53

kalo menghormati jiwanya caranya gimana bos?

KURNIA PRATIWI 22 Mei 2009 16.27

menghormati jiwa gimana ya? nia ga ngerti maksud pertanyaan nya...

cewek nakal 28 Maret 2010 13.06

tlg ganti friend banner aku yah..
link nya bukan link-sekilas tapi www.linksekilas.blogspot.com
thx ya..

sewa komputer 7 Januari 2011 13.45

diharapkan di zaman sekarang, memang ada penerus seperti ibu kartini..

tiket pesawat murah 20 April 2011 11.27

ibu kartini memang sosok yang istimewa.

Posting Komentar

Silahkan diisi bagi yang ingin berkomentar ^^)p